MASA TERINDAH?

    Halo! Kembali lagi bersama gue Ichan Wahyu. Sudah lama sekali gue ga ngeblog disini, karena terlalu sibuk dengan dunia sekolah gue. sekarang gue sudah menyudahi masa SMA gue dan gue ingin berbagi cerita dengan kalian yang sedang membaca artikel tidak jelas ini, semoga sedikit terhibur dan terinspirasi.
    Masa SMA gue sudah berlalu, gue bersekolah di SMA Negeri 1 Pontianak. Katanya sih SMA Favorit se-Kalimantan Barat, tapi yaa.....hhehehe. tapi gue bangga bisa masuk dan bersekolah disitu dan sekarang gue makin bangga karena sekolah gue mendapat peringkat 3 sekolah sehat tingkat nasional. keren khann.. tapi mendapatkan penghargaan itu kami satu sekolah harus kompak untuk berjuang menjadi sekolah sehat. Gue dulu adalah orang yang tidak pandai berbicara di depan umum. Pemalu. Gamers. Apatis. dan lain sebagainya. Tapi semenjak gue menginjakkan kaki di sekolah gue yang 'megah' itu, gue termotivasi untuk bisa menjadi orang yang dipandang, orang yang menjadi ikon sekolah itu. Dari motivasi itulah, gue ingin menjadi Ketua Osis. Sejarah SMA gue mencatat, tidak ada anak kelas 10 yang bisa berhasil menjadi ketua osis, pasti anak kelas 11, dan tidak mungkin kelas 12 karena kelas 12 sudah fokus untuk ujian nasional. Dan, sejarah itu gue....akui. Karena gue membuktikannya sendiri. Gue mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS, dengan seleksi yang 'wow', gue gagal. Tapi, dari seleksi ketua osis itu, gue langsung diterima menjadi anggota OSIS SMA gue. Pada saat gue menjadi anggota OSIS, gue selalu mencalonkan diri menjadi kalau ga ketua panitia suatu event, ya wakilnya. Tapi kebanyakan gue jadi wakil, sedangkan ketuanya kakak kelas gue. Gue selalu diberikan kepercayaan untuk mengikuti kegiatan diklat organisasi dan kepemimpinan sama ketua osis gue, gue gatau untuk apa, dan gue merasa pede dengan diklat itu, gue bisa menjadi ketua osis taun depan.
    Taun berganti, gue naik kelas 11 dan gue mencalonkan diri lagi menjadi ketua OSIS, disitu gue disaingin oleh 2 orang temen seangkatan gue dan 3 adik kelas. Gue merasa yakin kalau gue bisa menang, karena visi misi gue jelas, gue punya pandangan kedepan lebih daripada temen gue, dan pada saat pengenalan calon ketua osis ke kelas-kelas, banyak yang bertepuk tangan dan menyoraki gue, tambah pede gue nih. Tetapi, pada saat hari orasi, gue kalah voting dengan temen gue. Gue awalnnya sudah menebak, soalnya 1 temen gua itu non-islam, dan 1 lagi islam. gue yakin suara gue dengan temen gue yang islam terpecah dan akhirnya yang menang adalah temen gue yang non-islam. Kecewa? iya kecewa. sedih? iya sedih, tetapi tidak meruntuhkan semangat gue untuk menjadi orang yang menonjol di sekolah gue.
   Taun berganti lagi, gue akhirnya kelas 12. kelas dimana pada sibuk-sibuk ujian. Tetapi, berbeda dengan gue, gue SIBUK dengan 2 kepanitiaan event di sekolah gue dalam WAKTU YANG BERSAMAAN, dan gue menjadi KETUA nya....tetapi hanya 1 semester aja, Gue waktu itu menjadi ketua panitia Ganesha League One II, Kompetisi Futsal Intern SMANSA dan ketua panitia buku tahunan siswa (buku angkatan). Dengan penuh perjuangan, membujuk teman-teman seangkatan dan sesekolah gue untuk mengikuti event yang gue buat. Dan akhirnya banyak yang mau ikut event gue. Dengan menjadi 2 ketua kepanitiaan itu, gue merasa lebih banyak manfaatnya dibanding dengan menjadi ketua OSIS. Teman gue yang menjadi ketua OSIS tidak bisa melakukan banyak kegiatan karena sekolah pada waktu itu lagi direnovasi, sehingga temenku hanya bisa melakukan perbaikan di intern OSIS nya. Gue merasa, inilah pengganti yang diberikan oleh Allah untuk gue pada saat dulu gue kecewa dengan tidak jadinya menjadi ketua OSIS, padahal gue sudah mempersiapkannya selama 6 bulan. Gue menjadi teman 1 angkatan gue, teman 1 angkatan gue tidak ada yang tidak mengenal gue. dan masyarakat di sekolah gue pasti kenal dengan gue kecuali untuk mereka yang apatis. Gue yang merasa awalnya hidup gue sudah hancur karena mimpi gue runtuh 1 rupanya ada pengganti yang lebih baik.
    Semester 2 pun telah tiba, saatnya untuk fokus ke masa depan. Gue tidak belajar maksimal untuk Ujian karena ujian tidak menjadi penentu kemana kita kuliah. Gue masih bingung menentukan mau kemana. Awalnya gue mau FK tetapi karena mahal, mau STIN (Sekolah Tinggi Intelejen Nasional) tapi gue minus. Jadi gue bingung dan pencerahan pun datang.... Seminar STAN mengundang 1 sekolah kami. Pada saat itu, gue baru tersadar bahwa gue suka berkerja dan gue suka menghitung duit, dan gue yakin STAN cocok untuk gue. Gue ikut bimbel STAN dengan biaya yang seharga dengan 1 buah motor (ada garansi), dan gue belajar selama 2 bulan full tiap malam. Daan, usaha gue ga sia-sia, gue pun lolos tahap 1 USM PKN STAN 2017, lanjut ke tahap 2 yaitu tes kebugaran dan kesehatan. gue latian tiap hari untuk bisa lolos tahap 2, dan gue dibeliin sepatu running nike terbaru sama orang tua gue, dengan harapan gue bisa lolos tahap 2 ini. Dan karena kepercayaan orang tua gue, gue bisa lolos tahap 2 dan sisa tahap yang terakhir. Dari tahap 1 sampe tahap terakhir ini gue selalu berjuang bersama teman saingan gue, Kopang namanya (Hafizh Irfaan). Bersama beliau gue selalu termotivasi untuk menjadi yang terbaik sampai gue berjuang untuk bisa lolos tahap terakhir ini. 2 minggu gue belajar dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore (di bimbel) dilanjutkan habis teraweh sampai jam 12 malam, selama 2 minggu non-stop. Modul sudah gue hapal, UUD diluar kepala, sejarah dari jaman buyut sampai sekarang uda jadi mainan gue. Temen-temen gue biasa nanya-nanya ke gue kalau mereka ga tau. Dan waktu tes tiba, gue ke bintaro bersama 4 temen dekat gue, Algie Gabe Rama Doni. Kami berlima menginap dalam 1 kamar yang sama. Orang Tua gue sudah bilang jangan rame-rame dalam kamar, tapi awalnya gue berdua dengan gabe, tetapi karena gabe itu non-islam yang tidak berpuasa, gue mengundang temen-temen gue yang Islam satu kamar dengan gue. Kami belajar bareng, satu per satu temen gue sudah mulai tes (tes nya pakai kloter). Sebelum kloter gue tiba, h-1 kloter gue, gue sesak nafas, nda bisa bernafas dgn baik, sehingga gue dibawa sama temen gue sekamar ke rumash sakit premier International Bintaro, dan biaya berobat gue bisa beli 100 porsi ayam geprek... Dan ibu gue khawatir dan datang ke Bintaro, gue semakin membaik dan besoknya gue test. Dengan kondisi yang masih sakit, gue paksakan untuk bisa mengikuti test, dan akhirnya gue hanya mendapat skor pas-pasan.... Sedih bercampur kecewa yang gue rasain, perjauangan yang gue lakukan hanya dapat segitu aja skornya. Tapi gue masih percaya gue dapat lolos dengan skor pas-pasan itu kayak gue waktu masuk SMANSA, nilai gue pas-pasan juga. Ibadah yang atak henti diiringi doa agar gue bisa lolos, karena gue gabisa berusaha apa-apa lagi kecuali berharap kepada-Nya. Kopang, saingan gue mempunyai nilai lumayan bagus, sehingga membuat gue minder. Pengumuman STAN tiba, dan nama gue tidak ada di daftar yang lolos. Gue tidak lagi sedih dan tidak lagi kecewa, karena sudah sudah terjadi pada saat gue di Bintaro, gue sudah pasrah tidak masuk STAN, cuman ada rasa ingin seperti temen-temen deket gue aja yang di UI, UGM, IPB, ITB, STAN, IPDN, dan ptn terkenal lainnya.
    Dibalik Cerita perjuangan gue yang berakhir tragis wkwk, gue bersyukur bisa kuliah di Universitas Tanjungpura, walaupun tidak sehebat seperti PTN diluar sana, tempat temen-temen deket gue berada. Gue hanya ingin bisa menyamakan level dengan mereka. Mereka di ptn favorit hanya bisa selesai tepat pada waktunya, gue yang berada di ptn biasa harus bisa selesai lebih cepat dari mereka. Nilai gue harus tinggi, sehingga gue tidak lagi minder jika harus kumpul bersama mereka. Gue tidak menilai UNTAN itu jelek dan sebagainya, tetapi harus diakui bahwa UNTAN masih jauh dari kata favorit, dosen-dosen gue di UNTAN juga berkata demikian kalau orang diluar sana masih belum mengenal UNTAN (UNTAN dibilang berada didaerah papua, kata temen dosen gue...)
   
    Kisah gue ini hanya bisa menjadi kenangan yang indah dimana di momen ini lah gue berusaha sekuat tenaga untuk mengejar cita-cita gue. Dengan motivasi yaitu orang tua gue yang sudah percaya kepada gue dan orang-orang terdekat gue yang sudah mendukung gue, gue berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melunturkan rasa percaya mereka. Tetapi, apa daya, kehendak-Nya berbeda dengan kehendakku, gue harus terima yang telah terjadi dan menjalankan kehidupan gue seperti normal lagi dengan penuh semangat.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KILLER NO JUTSU

JOMON

NEW YEAR'S EVE